| [An English translation of this article is needed. If you are able to assist please contact sievx.com]
Menguak Imigran Gelap (3) Cerita dari Kampung Menanga Baris Reporter: Arif Sodhiq 6 December 2001 detikcom Jakarta: Kampung Menanga Baris tidak berbeda jauh dengan kampung nelayan pada umumnya. Perahu kayu yang menjadi simbol kebesaran nelayan bersandar di bibir pantai. Anak pantai berkulit legam asyik bermain pasir dan ombak. Ketika sebuah kapal merapat, laki-laki-perempuan, besar-kecil dan tua-muda berlari menyongsongnya. Dengan senyum syukur, mereka mengangkut hasil tangkap an suami atau ayah mereka. Mungkin perbedaannya dengan kampung nelayan lainnya adalah cerita tentang people smuggling yang tersimpan dalam hiruk-pikuk kehidupan nelayan di sana. Kampung nelayan Menanga Bugis merupakan bagian dari Desa Labuan, Kec. Pringgabaya, Lombok Timur. Menurut Muladi, salah seorang penduduk nelayan, di awal tahun 2000 sebuah kapal terdampar di kampung itu. Panjangnya 32 meter. Semula warga tidak curiga dengan kapal itu. Mereka baru menyadari kapal itu bukan kapal biasa ketika melihat ada 200 penumpangnya berasal dari Timur Tengah. Selanjutnya, penumpang itu ditangkap aparat kepolisian setempat. Lain lagi cerita H Abdul Halim alias Pak Haji Aling. Lelaki yang tinggal di Desa Labuhan Lombok, Kab. Lombok Timur itu pernah masuk tahanan Polres Lombok Timur. Pasalnya, dia ikut membantu perjalanan imigran gelap ke Australia. Tugas yang harus dilakukan Haji Aling saat itu adalah mencarikan kapal dan membelinya. Kapal tersebut akan digunakan untuk memberangkatkan imigran gelap berlayar menuju Australia lewat Kayangan. Sebelum berangkat, para imigran gelap itu diinapkan di Hotel Surabaya dan Hotel Orindo di Cakranegara, NTB. Para imigran gelap itu tiba di NTB melalui rute Surabaya-Bali-Lombok. Perjalanan menuju Surabaya ditempuh dengan jalur darat. Sedangkan untuk perjalanan dari Surabaya menuju Bali menggunakan feri. Sesampainya di Lombok, mereka diinapkan di rumah Haji Midun yang berlokasi di Lombok Timur. Sebelum naik ke kapal, mereka sempat berada di rumah Haji Aling selama beberapa jam. Untuk memperlancar perjalanan menuju negara impian, agen yang mengkoordinir mereka menyogok oknum polisi dan imigrasi Rp 1 juta per orang. Siapa Haji Madun? Menurut cerita Haji Aling, Haji Madun adalah orang Arab yang tinggal di Pancor Lombok Timur. Kabarnya, Haji Madun bekerja di sebuah proyek yang berada di Lombok. Haji Madun yang mengorder Haji Aling untuk mencarikan sebuah kapal besar. "Dia minta dicarikan kapal. Katanya sih buat travel, jadi saya carikan. Ketika kapal sudah dapat, saya kaget karena banyak orang Arab di rumahnya. Pikir saya. Mau kemana orang-orang itu?" tanya Haji Aling ketika itu. Kapal yang diperoleh Haji Aling dibeli dari seseorang yang bernama Haji Mu'in dengan harga Rp 400 juta. Setelah dibeli, kapal itu direhab sesuai dengan kebutuhan. Sebelumnya kapal itu merupakan kapal angkut kayu dengan berat 300 ton, panjang 32 m dan lebar 12 m. Saat itu, Haji Aling tak ambil pusing dengan persoalan itu. Yang penting, tugasnya telah selesai. "Saya tak tahu sama sekali setelah dibeli mengapa direhab?" kenang Haji Aling. Setelah segala persiapan dirasa cukup, rombongan yang dipimpin Abu Nur alias Syekh Hakid itu berangkat menuju negeri Kanguru. Namun, perjalanan mereka berhasil digagalkan Polres Lombok Timur. Bahkan, Abu Nur dan Haji Aling harus mendekam di sel tahanan polisi. Haji Aling harus mendekam dalam sel selama 13 hari. Sementara, Abu Nur melarikan diri pada hari ketiga penahanannya. "Dia kalau tertangkap bisa lari. Itu anehnya, padahal dia tidak bawa HP tapi bisa bertemu dengan rekan-rekannya," tutur Haji Aling. "Setelah 13 hari saya dibebaskan. Saya tanyakan mengapa saya ditahan waktu itu. Jawabnya, anda menginapkan orang di rumah anda. Lho yang menginapkan di rumah saya siapa kan di hotel, saya bilang. Hanya saja, mereka datang ke sini kerena mau diberangkatkan. Mereka turun di depan rumah baru naik kapal," papar Haji Aling. Soal Abu Nur, Haji Aling memuji partner bisnisnya itu. Menurut dia, Abu Nur adalah orang yang licin. Haji Aling mencontohkan kejadian di Senggigi. "Waktu dicari polisi dari Polda saya lari ke Labuhan Lombok. Anehnya, dia kok bisa ketemu dengan arab-arab lainnya. Tapi memang hebat bos Abu ini. Sekarang tidak diketahui dimana Abu Nur berada tapi paspornya masih disini," tambah Haji Ali ng. Tak Dapat Bagian Tertangkapnya rombongan imigran gelap itu bisa disebut sebagai gagalnya bisnis awal Haji Aling. Impiannya untuk mendapatkan uang berlimpah dan bayangan masa depan yang cerah langsung sirna. Sebelumnya, dia sudah membayangkan akan mendapat komisi dalam jumlah besar bila kapal itu nantinya laku Rp 400 juta. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Dia harus berurusan dengan polisi. "Saya sudah lega waktu itu --ketika berhasil mendapatkan kapal. Ternyata ketangkap ya hilang," keluh Haji Aling. Selain tidak mendapatkan uang, lanjut Haji Aling, dirinya juga mengalami kerugian material. "Malah saya jadi korban. Rumah saya jadi berantakan akibat amukan imigran gelap itu. Sepeda motor milik saya satu-satunya hancur. Akhirnya, saya bongkar total belakang rumah saya karena nggak karu-karuan," tutur Haji Aling. Ketika keluar dari tahanan, sebenatnya Haji Aling sempat bertemu Haji Madun. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menanyakan keberadaan Abu Nur. Namun, dia harus kecewa karena Haji Madun tidak tahu dimana 'sang bos' berada. Gagalnya pelayaran itu seperti menjadi sebuah phobia. Setelah peristiwa itu, jarang nelayan yang mau membantu mencarikan kapal untuk imigran gelap. "Setelah terjadi ribut begini sudah tidak ada. Biar sampai Flores juga tidak ada," Haji Aling berusaha menyakinkan. Meski demikian, kabar bahwa di Menanga Baris ada agen-agen yang menawarkan nelayan-nelayan untuk menyeberangkan imigran masih santer terdengar. "Saya tidak pernah dengar," tandas Haji Aling. (rif)
|
Back to sievx.com